
PNPP Polsubsektor Mapia terlihat sedang bahu-membahu bersama masyarakat setempat mengangkut beras dari Kapal ke daratan.
Pulau Mapia, Supiori – Ketika matahari condong ke barat di Pulau Mapia, debur ombak dan tawa warga
berpadu dalam harmoni sederhana. Di antara mereka, tampak para polisi
berseragam lengkap, bahu-membahu memikul karung-karung beras dari kapal bantuan
sosial yang baru tiba. Bukan operasi besar, bukan patroli khusus — melainkan
bagian dari rutinitas pengabdian sehari-hari.
Kamis (6
November 2025), menjadi hari yang biasa tapi bermakna bagi Polsubsektor Mapia,
Kepolisian Sub Sektor yang terletak di wilayah dengan status Pulau terluar Republik Indonesia ini berada di utara Kabupaten
Supiori. Sejak pagi hingga malam, para anggota berjaga, membantu warga, dan
memastikan situasi kamtibmas tetap aman. Tak ada kejahatan yang dilaporkan,
hanya kesibukan penuh semangat dalam pelayanan.
“Di sini kami
tidak hanya menjaga hukum, tapi juga menjaga kehidupan,” ujar Ipda Otto Binur,
Kapolsubsektor Mapia. “Ketika warga butuh bantuan, kami ada — entah untuk
menurunkan bantuan sosial, memperbaiki perahu nelayan, atau mengantar warga
yang sakit.”
Dalam satu
hari, mereka membantu menurunkan 160 karung beras bantuan dari Dinas Kesra
Kabupaten Supiori. Bagi masyarakat setempat, kehadiran polisi di pulau kecil
ini adalah bentuk nyata perhatian pemerintah.
“Beras itu
penting, tapi yang lebih berharga adalah kehadiran mereka di sini,” ucap
seorang warga, menatap para petugas yang masih sibuk merapikan dermaga.
Pulau Mapia
bukan tempat yang mudah dijangkau. Perjalanan laut panjang, sinyal komunikasi
terbatas, dan pasokan logistik tak selalu pasti. Namun, di tengah keterbatasan
itu, semangat pengabdian justru tumbuh lebih kuat.
Setiap pagi, bendera
merah putih tetap dikibarkan di depan Mapolsubsektor Mapia, menjadi simbol tekad dan
kesetiaan mereka terhadap negara.
Di sini, di batas negeri, para polisi Pulau Mapia mengajarkan makna sejati
pengabdian: setia menjaga meski jauh, melayani meski tak terlihat. (sps)

